Kamis, 21 Februari 2013

Bena Village (Flores Trip Part 3)


Masih di hari kamis, 15 November 2012, setelah paginya saya dan teman-teman mengunjungi Taman Nasional Kelimutu, kemudian siangnya kami mampir sebentar ke Pantai Batu Hijau yang masih berada di Ende, tepatnya didaerah Penggajawa. Di pantai ini juga terdapat pendulangan batu hijau yang dilakukan oleh masyarakat sekitar pantai, batu hijau disini bermacam-macam ukurannya, mulai dari yang kecil banget sampe yang besar. Ini beberapa penampakannya...
Pasirnya hitam
Penampakan pantainya...
Batu warna hijau dikanan, non hijau dikiri :D
Cukup asiklah ketemu pantai siang-siang gini, walaupun pantainya kalah jauh sama pantai-pantai di Komodo :p Selanjutnya, kami meneruskan perjalanan menuju Desa Bena yang terletak di Bajawa. Jujur ya, saya baru mendengar nama Desa Bena saat mendekati trip Flores ini, tepatnya di awal Bulan November. Saya bahkan belum sempat browsing dan nanya-nanya tentang Bena ini, bener-bener deh fokus saya kali ini, cuma pengen ke T.N Komodo sama Kelimutu, lainnya saya anggap distraction. Tapi, ternyata interesting distraction lho :D 
Sekitar sorean, kami sampai di Desa Bena, yang ternyata merupakan salah satu desa megalitikum di pulau ini. Setelah Om Obet selesai mengisi buku tamu dan membayar sumbangan sebesar Rp 50.000, saya langsung berjalan mengelilingi desa, sangat menarik ternyata.....


Amazingly Bena
Atapnya ditutupi jerami
Anak-anak Desa Bena
Me & Bena
Era Megalitikum :D

Sekilas tentang Bena :
Kampung Bena adalah salah satu perkampungan megalitikum yang terletak di Kabupaten NgadaNusa Tenggara Timur. Tepatnya diDesa TiwuriwuKecamatan Aimere, sekitar 19 km selatan Bajawa. Kampung yang terletak di puncak bukit dengan view gunung Inerie. Keberadaannya di bawah gunung merupakan ciri khas masyarakat lama pemuja gunung sebagai tempat para dewa. Menurut penduduk kampung ini, mereka meyakini keberadaan Yeta, dewa yang bersinggasana di gunung ini yang melindungi kampung mereka.
Kampung ini saat ini terdiri kurang lebih 40 buah rumah yang saling mengelilingi. Badan kampung tumbuh memanjang, dari utara ke selatan. Pintu masuk kampung hanya dari utara. Sementara ujung lainnya di bagian selatan sudah merupakan puncak sekaligus tepi tebing terjal.
Kampung ini sudah masuk dalam daerah tujuan wisata Kabupaten Ngada. Ternyata kampung ini menjadi langganan tetap wisatawan dariJerman dan Italia.
Ditengah-tengah kampung atau lapangan terdapat beberapa bangunan yang mereka menyebutnya bhaga dan ngadhu. Bangunan bhaga bentuknya mirip pondok kecil (tanpa penghuni). Sementara ngadhu berupa bangunan bertiang tunggal dan beratap serat ijuk hingga bentuknya mirip pondok peneduh. Tiang ngadhu biasa dari jenis kayu khusus dan keras karena sekaligus berfungsi sebagai tiang gantungan hewan kurban ketika pesta adat
Kampung ini sama sekali belum tersentuh kemajuan teknologi. Arsitektur bangunannya masih sangat sederhana yang hanya memiliki satu pintu gerbang untuk masuk dan keluar, Menurut catatan Pemerintah Kabupaten Ngada, Kampung Bena diperkirakan telah ada sejak 1.200 tahun yang lalu. Hingga kini pola kehidupan serta budaya masyarakatnya tidak banyak berubah. Dimana masyarakatnya masih memegang teguh adat istiadat yang diwariskan oleh nenek moyang mereka. Bangunan arsitektur Bena tidak hanya merupakan hunian semata, namun memiliki fungsi dan makna mendalam yang mengandung kearifan lokal dan masih relevan diterapkan masyarakat pada masa kini dalam pengelolaan lingkungan binaan yang ramah lingkungan. 
Nilai yang dapat diketahui bahwa masyarakat Bena tidak mengeksploitasi lingkungannya ialah lahan pemukiman yang dibiarkan sesuai kontur asli tanah berbukit. Bentuk kampung Bena menyerupai perahu karena menurut kepercayaan megalitik perahu dianggap punya kaitan dengan wahana bagi arwah yang menuju ke tempat tinggalnya. Namun nilai yang tercermin dari perahu ini adalah sifat kerjasama, gotong royong dan mengisyaratkan kerja keras yang dicontohkan dari leluhur mereka dalam menaklukkan alam mengarungi lautan sampai tiba di Bena.
copas dari wikipedia

View Bena dari atas
Rumah di Bena
Tenunan yang dijual
Desa diatas bukit, jadi viewnya AJIB
Oke, karena langit sudah mau gelap, maka kamipun harus segera pergi meninggalkan desa ini, sementara kami pergi, banyak turis asing (sekitar belasan orang) mulai berdatangan kesini dengan membawa kasur lipat. Ternyata turis-turis ini akan menginap disini, mereka ingin merasakan suasana tenang dan sejuk di perkampungan megalitikum ini, lagi-lagi saya bangga sekali pernah kesini :)
Malamnya, kami menginap dirumah Om Karel yang terletak di Ruteng. Om Karel adalah sopir kami selama perjalanan menyusuri Flores, dia dengan baik hati menawari kami untuk menginap dirumahnya \(´`)/ Keluarga Om Karel sangat ramah dan menyenangkan, kami bersepuluh bisa meluruskan badan malam itu, ditemani dinginnya Ruteng. Alhamdulillah malam ini bisa menginap gratis...
Kami bersama keluarga Om Karel

Jumat, 16 November 2012
Hari ini saya bangun pagi-pagi sekali, setelah sholat subuh, saya berjalan-jalan mengelilingi perkampungan rumah Om Karel barengan Anggi, Ramdan dan Tyo. Sedangkan yang lain masih pada molor, asik sama mimpinya, skip aja deh! Oiya, sebelumnya kami mampir dulu untuk membeli camilan donat yang di shake dengan gula halus (karena kelaperan). Sambil jalan-jalan pagi sambil makan donat deh :D
Capek jalan-jalan, kami kembali kerumah Om Karel dan yang lainnya masih pada asik tidur Ҩ(° ̯˚)Ҩ Saya dan Anggi berinisiatif untuk memasak mi rebus sebagai sarapan. Dan pagi itu, ditemani nasi dan mi telur rebus, kami dan keluarga Om Karel makan dengan lahapnya \(´`)/
Sekitar jam 10 siang, kami meninggalkan rumah Om Karel untuk melanjutkan perjalanan kembali ke Labuan Bajo. Ditengah perjalanan, kami berhenti di sebuah desa tertua di kota Ruteng.


Rumah Kerucut :D
Katanya, rumah ini ditempati 40 KK lho

Sorenya, kami sampai juga di Labuan Bajo (lagi) dan kami (lagi-lagi) menginap di Hotel Wisata, saya sekamar dengan Anggi dan Diyan. Sekitar jam setengah 5 sore, saya barengan dengan Anggi dan Dimas berjalan-jalan disekitar pelabuhan sambil jajan cilok (pentol) dan memburu sunset yang lumayan keren :) Btw, cilok disini mahal, masa seribu cuman dapet 2, tapi setelah ditawar Dimas, akhirnya seribu dapet 3 deh \(´`)/ Capek jalan-jalan, kami mampir ke toko oleh-oleh untuk beli kaos.


Sunset
Suasana malam di Labuan Bajo
Okee, malam ini adalah malam terakhir di Labuan Bajo, makanya sayapun gak capek-capek untuk jalan-jalan disini (sampe jam 11 malam). Sampe bapak pemilik toko dan pemilik warung nasi padang pun saya ajak ngobrol, maklumlah mereka juga orang jawa, karena sama-sama ketemu orang Jawa, mereka jadi betah ngobrol deh, ngobrolnya dari era 80an, infrastruktur sampai pemerintahan :D Saya memutuskan untuk tidur jam 12 malam, karena besok saya akan melakukan perjalanan panjang menuju Denpasar via darat-laut. Tetep semangat ya ikutin cerita saya sampe balik ke Surabaya lagi...

Pengeluaran :
Lunch (Bakso + Nu Green Tea)                                  Rp     17.000
Jajan di Ruteng                                                       Rp      6.000
Dinner (Gado-gado)                                                 Rp     10.000
Hotel Wisata                                                           Rp     50.000
Jajan Cilok                                                             Rp       3.000
Urunan tiket masuk 14-16 Nov                                   Rp     21.500
Kaos 2 pc                                                                Rp   120.000
Bis (Labuan Bajo - Denpasar)                                    Rp    340.000
Total Pengeluaran                                                 Rp    567.500


2 komentar:

  1. Gw juga pernah ke Flores, tapi cuman ke Labuan Bajo aja, Ga nyangka banget di Flores ada desa macam desa bena. Lo keren bisa nyampe ketempat macam begini, 2 jempol deh buat lo!

    Salam kenal dari Bekasi...

    BalasHapus
  2. Terima kasih :)
    Semoga kamu bisa kembali ke Flores lagi ya (suatu saat)
    keren banget ini desanya...

    Salam kenal juga dr saya :)

    BalasHapus