Selasa, 09 Juli 2013

Hello Aceh - Northern Andalas Trip Part 1

Saya ingin menjelajah semua provinsi di Indonesia, dan harus segera dicicil dari sekarang!!!
-NuQee,2008,found in Dream book Boot Camp-  

Hampir tidak pernah terbersit dalam pikiran saya untuk traveling ke Aceh dalam beberapa tahun ini, karena saya selalu mengincar daerah-daerah di Indonesia tengah dan timur, kalaupun suatu saat saya ke Aceh, saya ingin sekali ke Pulau Weh. Tapi semua berubah ketika QZ menebar racun promo di bulan September 2012. Waktu itu saya berhasil mendapat tiket PP BDO-MES seharga Rp 298.000, okeh...karena saya belum pernah ke Medan, sayapun bersemangat untuk traveling ke Sumatra Utara. Tapi ternyata, tak hanya QZ saja yang menebar racun, maskapai sekelas GA pun memasang harga promo untuk semua rute, yah...walaupun tidak semurah QZ tapi saya pikir cukup worth it. Travelmate saya mengusulkan untuk memasukkan Aceh dalam rute perjalanan kami, saya pikir "why not?", sekali dayung 3 provinsi terlalui (Jawa Barat-Sumatra Utara-Aceh). Lalu, sayapun berhasil mendapatkan tiket one way MES-BTJ dengan harga 200ribuan, cukup murah untuk terbang dengan maskapai terbaik di Indonesia.
Sembilan bulan telah berlalu, tepat di tanggal 7 Mei 2013, saya memulai perjalanan saya ke bagian barat Sumatra. Setelah sekian lama saya menanggalkan status backpacker, akhirnya saya backpackeran lagi. Sangat senang, setelah jeda 4 bulan dari trip terakhir saya ke KL-Penang di bulan Januari kemarin. Tapi entah kenapa rasanya saya kurang bersemangat seperti pada akhir tahun 2012, mungkin karena jarak booking tiket dengan bepergiannya terlalu lama (9 bulan cuy, kaya mau lahiran aja :D). Tapi...pasti nanti bakalan banyak sesuatu yang baru, yang akan membuat semangat saya OK lagi, pasti!!! Dalam perjalanan ini, saya dan kedua travelmate tidak terlalu menargetkan untuk tujuan-tujuan mana saja yang akan kami datangi, kami sepakat untuk "let it flow" saja. Kami hanya bermodalkan tiket pesawat, keril seisinya, uang seminimnya (maklum backpacker), dan informasi dari dunia maya tentang segala sesuatu yang sekiranya berguna. Saya menyebutnya semi blind trip :D
Dengan tujuan berbagi pengalaman, inilah cerita perjalanan saya mengunjungi beberapa daerah di 2 provinsi di Sumatra dalam waktu yang tidak terlalu lama, perjalanan yang membuat saya 80% melupakan gadget2 saya selama 8 hari saking menikmati segala sesuatunya. Seriuss! kalau kalian mengenal saya, pasti kalian tau betapa lengketnya saya dengan gadget2 saya, saya bahkan jarang ngeTweet seperti yang biasanya saya lakukan saat sedang traveling. Perjalanan ini memberikan pengalaman baru menjelajahi tempat-tempat baru di nusantara tercinta...
Me & My Bodyguard Travelmate
Saya kemari bersama dengan 2 travelmate lawas, sebelah kiri (jaket hitam) namanya Ramdan, orang Depok yang pendiam tapi baik hati, yang pernah menemani saya keliling Sulawesi dan Flores. Satunya lagi, sebelah kanan (jaket abu2) seringnya dipanggil NK, arek Suroboyo yang ringan tangan, travelmate saya dari tahun 2011 yang pernah menemani saya keliling Lombok dan Sulawesi Selatan.


Day 1 Selasa, 7 Mei 2013
Surabaya - Bandung - Medan
Halo Bandung! Ini adalah pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Bandara Husein Sastranegara (bukan Kota Bandungnya lho ya), sempat kaget karena bandaranya kecil dan lagi berada di tengah kota. Kedatangan saya disambut oleh mendung dan gerimis yang makin melengkapi dinginnya udara Kota Bandung. Pas…pada saat itu saya sedang lapar, maka saya putuskan untuk sarapan di Solaria yang terletak persis di depan pintu kedatangan sambil menunggu waktu yang tepat untuk keliling kota (menunggu hujan reda).
------------------Jalan-jalan keliling Bandung------------------
Menjelang isya, saya telah berkumpul dengan NK dan Ramdhan di bandara, kami duduk-duduk santai di depan Yomart, sambil menunggu penerbangan ke Medan. Kami ditemani oleh Defi dari Backpacker Bandung, percaya deh, sampai hari terakhir perjalanan ke Sumatra nanti, tiap harinya saya selalu punya teman baru :)
Tepat pada jam 21.15, pesawat dengan nomor penerbangan QZ 7803 membawa kami bertiga menuju Medan dengan durasi perjalanan sekitar 2 jam 15 menit. Sekitar jam 23.30, sampailah kami di Bandara Polonia (yang lagi-lagi terletak ditengah kota), Medan dengan udaranya yang dingin karena habis diguyur hujan. Kami sudah ditunggu oleh Ko Wilson dan Lisa dari Backpacker Medan, kami ditawari untuk menginap dirumah Ko Wilson, alhamdulillah…aman untuk malam ini.

Day 2 Rabu, 8 Mei 2013
Medan - Banda Aceh
Sekitar jam 7 pagi, kami bertiga dijemput oleh taksi menuju bandara untuk terbang lagi menuju Aceh, propinsi paling ujung di barat Indonesia. Karena kami kepagian nyampe bandara, maka kami sempat leyeh-leyeh di sekitaran counter check in, sambil menunggu panggilan yang berasal dari speaker. Tepat pada jam 09.50, GA 142 menerbangkan kami dari MES menuju BTJ dengan durasi 1 jam perjalanan. Saya sempat bertemu dengan teman SMA saya yang menjadi pramugari GA, cukup menyenangkan mendengarkan rute perjalanannya selama seminggu kedepan. Semoga kita sering ketemu ya, teman (semoga saya sering terbang dengan GA) Aamiin…


Bandaranya Aceh
Pesawat landing di Bandara Sultan Iskandar Muda pada jam 10.50, dan setelah kami mengambil tas keril yang kami bagasikan, kami segera mencari kendaraan umum untuk menuju ke Banda Aceh. Karena angkutan umum di sini belum-belum sudah pasang harga tinggi, maka kami lebih memilih naik Damri saja. Kami naik Damri seharga Rp 15.000 menuju tempat perhentian terakhir, yaitu Masjid Baiturrahman. Sempat speechless campur senang karena bisa sampai sejauh ini, sampai di Banda Aceh, yang pada akhir tahun 2004 dilanda tsunami yang meluluh lantakkan kota ini. Banda Aceh yang dulu selalu saya ikuti beritanya di TV (pasca tsunami) dengan sekarang sangat berbeda, sudah banyak sekali bangunan dan tata kotanya rapi :)
Begitu memasuki area masjid Baiturrahman, saya segera memakai pasmina untuk menutup rambut saya, disini semua wanita muslim menutup aurat mereka, maka sayapun juga begitu :) Saya janjian dengan Aris, teman yang saya kenal lewat twitter di masjid ini, rencananya saya akan menyewa motor di temannya Aris selama 4 hari kedepan. Setelah deal dengan Tardi, teman Aris yang menyewakan motor, saya mendapat harga Rp 55.000 perhari (nego). Terima kasih telah mempercayai saya, Aris :)

Masjid Raya Baiturrahman
Sekitar jam 13.00, saya mulai berkeliling kota Banda Aceh dengan NK, saya mengunjungi Blang Padang dimana disitu terdapat Monumen Aceh Thanks To The World yang didirikan sebagai ucapan terima kasih kepada banyak negara yang telah membantu Aceh pasca bencana tsunami, dan replika pesawat RI 001 yaitu pesawat hasil sumbangan dari rakyat Aceh untuk Indonesia. Serta mengunjungi PLTD Apung di Blang Cut. Selanjutnya, saya mengunjungi Museum Tsunami Aceh, cerita saya mengenai museum keren ini bisa dibaca DISINI


The Museum

Foto-foto di Blang Padang

Aceh Thanks To The World
The Story
Me
Terima Kasih & Damai
Bentuknya seperti ombak *tsunami
The Monument
Replika pesawat RI 001


Foto-foto di Blang Cut

Monumen Tsunami
Tsunami telah membawa kapal ini ke tengah kota
Inilah...
View dari atas PLTD Apung

Sedikit mengenai PLTD Apung
Kapal ini adalah salah satu saksi bisu dari bencana tsunami yang menimpa Aceh pada akhir tahun 2004. Di kapal ini terdapat mesin pembangkit listrik yang menggunakan diesel untuk membantu suplai listrik bagi masyarakat Banda Aceh dan Aceh Besar. Awalnya kapal ini berada di sekitaran perairan Ulee Lheue, lalu gelombang tsunami mendorong kapal ini sejauh kurang lebih 5 Km ke tengah kota. Masyaallah...kapal ini gede banget lho dan pastinya berat banget, tetapi gelombang tsunami mampu membawanya sejauh itu, benar-benar kuasa Allah. Kapal ini sengaja dibiarkan (tetapi juga dipelihara) di Blang cut, dan menjadi obyek wisata hingga saat ini.

Akibat kecapekan dan kelaparan, maka dipastikan selanjutnya kami ingin beristirahat sejenak dan mencari makan, setelah browsing2 sebentar akhirnya kami memutuskan untuk mencicipi Mie Razali (karena mi inilah yang banyak muncul sebagai result "Kuliner enak di Aceh"), kami ingin mencoba mi aceh langsung di kotanya, dan yang pasti mi-nya enak dan porsinya mengenyangkan.

Nom nom...
Kelar merapel makan pagi-siang-sore, saya dijemput Maina, seorang teman baru yang asli Aceh dan nantinya akan menjadi host saya selama disini. Maina sangat baik dan menyenangkan, dia adalah seorang penyiar radio di Banda Aceh, nice to meet you. Dari Maina, saya mengenal Ka Lisa yang berdomisili di Pulau Weh dan Mury yang juga seorang penyiar radio, rame dan hobinya foto-foto. Oiya, rencana sore ini adalah sunsetan di Pantai Lampu’uk, Aceh besar.
Menurut saya, ini merupakan tempat yang wajib dikunjungi, karena tak hanya sunset keren dan pantai yang ditemui disini, tetapi juga semacam danau. Pantai ini adalah pantai favorit saya di Aceh :)


Pantai Lampu'uk
My Fave View
Me & Lampu'uk
In new place, with new friends
That's why I love traveling :)
NK - Saya - Ka Lisa - Ramdhan - Maina - Mury
Sambil menikmati keindahan pantai ini, kami saling bertukar cerita mengenai kehidupan sosial-ekonomi di Jawa dan membandingkannya dengan yang di Aceh, sedikit berbeda ternyata :( Kami juga memesan kelapa muda yang disajikan dengan perasan jeruk nipis, belum pernah sih, tapi segerrr banget!!!
Jam tangan saya menunjukkan angka 18.30, maka kami berenam segera kembali ke Banda Aceh untuk menikmati suasana malam kota serambi mekkah ini. Kami berhenti di REX untuk makan malam sambil ngobrol santai, selanjutnya ke Rumoh Aceh yang katanya tempat ngopi gaul nan terkenal disana. Dan sekitar jam 23.30, saya sampai dirumah Maina dan ini berarti waktunya beristirahat setelah melewati hari yang panjang. Lalu bagaimana dengan Ramdan dan NK? Mereka menginap di Kost 28, penginapan yang fasilitasnya okeh banget (Kamar berAC, TV, Air panas, dapet sarapan pula), dan hanya 50.000 rupiah per orang untuk 1 malamnya. Recommended banget...

Ki-Ka : Ka Lisa, Maina, Cut, Mury, Ramdhan, Nk, Saya
Jujur, hari ini sangat menyenangkan sekali, banyak teman, info serta pengalaman baru yang saya dapat. Walaupun saya sempat roaming ketika Maina dan teman-temannya ngobrol menggunakan bahasa Aceh, tetapi saya merasa logat mereka lucu, yah…itung-itung belajar bahasa baru.

Day 3 Kamis, 9 Mei 2013
Banda Aceh - Weh Island
Saya tidur nyenyak semalam, sampai-sampai saya dibangunkan jam 7 pagi oleh Ka Lisa dan masih juga merasa ngantuk. Oke…rencananya hari ini saya akan nyebrang ke Pulau Weh atau yang biasa dikenal dengan Sabang. Saya bergegas mandi dan merapikan isi tas keril saya, setelah itu saya, Maina dan Ka Lisa sarapan sambil ngopi di kedai kopi Solong, gilaaa…di Surabaya aja saya hampir ga pernah ngopi, giliran di Aceh sok ngopi pagi, hehehe. Saya sih nyobain kopi susu sama teh tarik dingin, mantap rasanya, beda sama yang pernah saya coba sebelumnya (lha iya…kan jarang ngopi :p hehehe). Kedai kopi ini rame banget, katanya sih terkenal karena kopinya khas banget. Kelar ngopi cantik, saya menyempatkan diri untuk membeli kopi titipan teman-teman di Surabaya, yang artinya bakal nambah muatan keril saya, huh!
Karena hari ini adalah hari libur nasional, maka dipastikan kapal lambat maupun kapal cepat bakalan rame. Saya berencana menyebrang dengan kapal lambat (Ferry) yang berangkat jam 14.00, maka saya harus sudah berada di pelabuhan pada jam 12.00 agar motor sewaan saya bisa masuk kapal. Benar saja, tepat jam 12.00 saya sampai di pelabuhan, kapal sudah rame penumpang, dan hanya 5 motor lagi yang diperbolehkan masuk (termasuk motor sewaan saya), Yokatta ne!
Salah satu hal yang menarik terjadi disini, di tengah perjalanan menuju Pulau Weh, dari atas kapal, saya melihat banyak lumba-lumba berparade, melompat diantara air dan udara, seakan-akan gerombolan mereka mengiringi kapal yang saya naiki. Ini merupakan gerombolan lumba-lumba dengan jumlah terbanyak yang pernah saya lihat, 20an ekor bahkan lebih, di TN Togean saja saya tidak melihat sebanyak ini. Kata masyarakat sekitar, lumba-lumba jarang berparade seperti ini, kalaupun muncul jumlahnya nggak sebanyak ini, pasti mereka sedang menyambut kedatangan saya (keGRan). Saya sampai tersenyum-senyum sendiri dibuatnya, PRECIOUS moment :)
Untuk cerita lengkap saya selama di Pulau Weh, bisa di baca DISINI

Day 5 Sabtu, 11 Mei 2013
Weh Island - Banda Aceh
Sampai pelabuhan Ulee Lheue saya disambut gerimis yang tak lama kemudian menjadi deras, saya berteduh di warung sekitar pelabuhan dan pas banget saya belum sarapan, sambil nunggu hujan reda sambil sarapan deh :D Beberapa saat kemudian datanglah seorang teman baru bernama Bang Henri, dialah yang nantinya akan menemani kami bertiga (dalam waktu yang singkat) sampai tiba saatnya kami naik bis untuk meninggalkan Aceh, Makasih banyak bang!
Hari terakhir berada di Aceh tentunya tidak akan saya sia-siakan begitu saja, saya dan NK mengunjungi Rumoh Aceh, Taman sari Bunongan, kuburan massal, monument pendaratan jepang, pantai cermin, rumah korban tsunami dan ditutup dengan menikmati keindahan pantai Lhok Nga.

Rumoh Aceh
Bunongan
Naik sampai ke atas Bunongan :p
Kuburan massal
Pagar kuburan massal
Pantai Lhok Nga
Makasih uda nemenin kami, Bang Henri :)
Tepat pada jam 19.30 saya sudah berada di Che Yukee yang letaknya persis di depan terminal bis. Saya janjian dengan Tardi untuk mengembalikan motor disini. Kami bertiga membeli tiket bus "Sempati Star" jurusan Banda Aceh - Medan seharga Rp 140.000 dan pada jam 20.30, kami resmi meninggalkan Banda Aceh. Bisnya nyaman banget, executive class, dan yang pasti bakal kedinginan di dalamnya :D

See you on Medan!!!
Masih ada sambungannya lagi, yaaa.....
Sabarlah menunggu :)

Jumat, 28 Juni 2013

Museum Tsunami Aceh

Masih ingat bencana tsunami yang terjadi pada tanggal 26 Desember 2004? Jangan ditanya, semua orang pasti tahu akan bencana dengan skala internasional tersebut, bencana yang melumpuhkan kota Banda Aceh dan sekitarnya. Untuk mengenang tragedi tersebut, maka dibangunlah Museum Tsunami Aceh yang diresmikan pada tanggal 23 Februari 2008 oleh Presiden SBY. Museum ini merupakan rancangan dari M. Ridwan Kamil, seorang dosen teknik arsitektur ITB dan baru saja terpilih menjadi walikota Bandung periode 2013-2018. Museum Tsunami Aceh terletak di Jalan Iskandar Muda (dekat dengan Blang Padang), memiliki luas 2.500 meter persegi dan terdiri dari 4 lantai. Museum ini juga berfungsi sebagai pendidikan mengenai antisipasi bencana tsunami.
Saya menyempatkan diri untuk mengunjungi Museum Tsunami ini pada saat traveling ke Aceh sebulan yang lalu, dan ini adalah salah satu bangunan museum favorit saya :) Ah...andai banyak museum di Indonesia yang memiliki bangunan yang unik, tiap bulan saya pasti nge-trip ke museum.

Tampak Depan
Note it!
Setelah masuk kedalam museum, pertama-tama kita akan melalui Lorong Tsunami (Tsunami Alley), sebuah lorong sempit dan tinggi menjulang serta terdapat efek air berjatuhan melalui dinding dan juga suara gemuruh air. Yang membuat saya merinding pada saat melewati lorong ini adalah rekaman ayat suci Al-Quran yang dilantunkan oleh seseorang, sehingga membuat saya berpikir mungkin seperti inilah keadaan pada saat bencana tsunami terjadi, ketakutan, bahkan lebih parah dari ini, Allahu Akbar...

Lorong Tsunami
Setelah keluar dari Lorong Tsunami, saya sampai di Memorial Hall, dimana terdapat puluhan standing screen yang memperlihatkan puluhan slide foto keadaan pasca tsunami di Aceh. Disini terdapat banyak layar kok, jadi tidak perlu berebut dengan pengunjung lain untuk melihat foto-foto kerusakan dan kesedihan di Aceh pasca tsunami. Ruangan ini dikelilingi oleh kaca sebagai dindingnya, dan penerangannya juga remang-remang.

Selanjutnya.....menuju Sumur Doa, tempat ini berbentuk seperti cerobong, dimana di dindingnya terdapat nama-nama korban tsunami yang berhasil dikenali. Di ujung atap ruangan ini (ketinggiannya sekitar 30 meter), terdapat tulisan kaligrafi Allah. Saya sempat mendengar dari seseorang (yang mungkin seorang guide), bahwa didalam sini menggambarkan hubungan manusia dengan Allah, dan setiap manusia pasti akan kembali kepada-Nya.

Nama-nama korban tsunami
Setelah saya keluar dari Sumur Doa, saya melewati semacam lorong gelap yang berliku dan jalannya cenderung tidak rata (kadang menanjak). Di ujung lorong ini, terdapat jembatan yang dinamakan Jembatan Harapan. Di sepanjang jembatan ini, saya melihat banyak bendera dari berbagai negara yang membantu Aceh pasca tragedi tsunami. 

Jembatan Harapan & Cerobong
Hal yang saya lakukan selanjutnya adalah berkeliling museum sambil melihat foto-foto pasca tsunami, diorama, barang-barang peninggalan yang tersisa setelah tragedi tsunami, mencoba alat peraga yang berkaitan dengan gempa dan tsunami, dan sebagainya. Saya sempat menyaksikan video yang diputar pada ruangan semacam bioskop mini, video ini menayangkan kejadian pada saat tsunami berlangsung dan juga kondisi pasca tsunami (rekonstruksi Aceh).

Helikopter yang hancur akibat diterjang tsunami
Banyak hal yang bisa dilakukan di museum ini, dan juga banyak pengetahuan yang kita dapat mengenai bencana, terutama gempa dan tsunami. Menurut saya, museum ini sangat menarik secara keseluruhan, dan harus dikunjungi apabila berhasil sampai di Banda Aceh!!!

Selasa, 18 Juni 2013

Kulineran di Sabang

Saya suka sekali mencoba hal-hal baru, apalagi mencoba makanan khas daerah yang belum pernah saya kunjungi. Mumpung saya bisa menginjakkan kaki di Pulau Weh, atau yang biasa disebut Kota Sabang, pastinya saya menyempatkan untuk mencicipi kuliner khas pulau yang letaknya di ujung barat Indonesia ini. Inilah beberapa kuliner khas yang saya nikmati, cekidot.....

1. Sate Gurita
Kalau biasanya saya suka menikmati daging gurita didalam takoyaki, sushi, dan olahan masakan jepang lainnya, kali ini saya mencoba menikmati gurita dengan cara di sate. Yap! sate gurita adalah kuliner terkenal di Sabang, tekstur daging gurita yang kenyal membuat sate ini unik. Pada saat itu saya mencoba sate gurita yang terdapat di PUJASERA (PUsat JAjanan SElera RAkyat), ada 2 pilihan yaitu bumbu kacang atau bumbu padang, saya memilih bumbu padang. Rasanya cukup unik, tapi pas dengan lidah saya, dan yang pasti bikin nagih (apalagi kalau satenya dibumbu kacang).

Sate Gurita bumbu padang Rp 10.000

2. Mi Jalak
Mumpung lagi di Sabang, saya menyempatkan diri mampir ke Kedai Pulau Baru, yang terletak di Jalan Perdagangan 29, Kota Sabang, untuk mencicipi kuliner khas yang hanya ada ditempat ini, yaitu Mi Jalak. Mi Jalak merupakan mi berkuah bening yang dicampur dengan toge dan diatasnya ditaburi potongan daging ikan dan juga seledri. Rasanya unik dan porsinya mengenyangkan! Oiya, kita juga bisa minta ditambahkan telur setengah matang lho, yang pastinya rasanya lebih unik lagi :p


Seporsi Mi Jalak Rp 10.000

3. Mi Sedap
Mi Sedap (teman saya menyebutnya begitu) adalah versi lainnya dari Mi Jalak, tetapi dihidangkan tanpa kuah (versi saya sih). Saya menikmati mi ini di Kedai Mie Sedap yang terletak di Jalan Perdagangan 48, Kota Sabang. Rasanya enak dan (lagi-lagi) porsinya mengenyangkan (versi saya).
Seporsi Mi Sedap Rp 10.000

4. Rujak Buah
Sama seperti rujak buah pada umumnya, tapi rasanya segerr dan bikin nagih. Gimana ga nagih, pada saat itu saya makan rujak sambil menikmati Pantai Anoi Itam, hehehe. Siraman bumbu rujak yang berisi kacang uleg bercampur gula merahnya cukup banyak, ditambah taburan kacangnya ngebuat saya ngiler waktu nulis postingan ini (lebay!). Rujak ini saya nobatkan sebagai kuliner faforit saya di Sabang!
Rujak Buah Rp 6.000

5. Salak Sabang
Apa yang membedakan Salak Sabang dengan dengan salak lainnya? menurut saya, Salak Sabang memiliki ukuran yang lebih kecil dibandingkan dengan salak lainnya, tetapi rasanya manis. Salak ini banyak dijual di Pelabuhan Balohan, teman saya sempat beli sekilo, dan saya ikutan makan dan keterusan, hehehe :p

6. Mangga Sabang
Saya menemukan ada mangga sebesar ini ya di Sabang, gendut banget mangganya :p Yang saya tau, mangga gendut ini dijual di warung-warung di sekitar Pantai Pasir Putih. 
Giant Mango :p

Itulah beberapa makanan khas yang sempat saya coba selama di Sabang, sayangnya saya belum nyobain Bakpia Sabang dan Mi Kepiting :( Yah, semoga suatu saat saya bisa kembali menginjakkan kaki lagi di Sabang, Aamiin.

Senin, 17 Juni 2013

Around Weh Island

I've always traveling and having experience with different cultures and different people - Laurel Clark
My dreams come true! Yap, menginjakkan kaki di pulau paling barat Indonesia adalah salah satu impian saya, dan akhirnya saya bisa mewujudkannya dibulan Mei kemarin. Saya sangat menyukai pulau ini, banyak yang masih alami disini, pantainya, hutannya, aahhh...alamnya masih alami. Suasananya juga enak, sejuk pas lewat hutan, (kotanya) gak terlalu rame bahkan cenderung sepi di beberapa tempat. Suka banget sama pulau ini, doh! mendadak pengen kesini lagi :(

How to get there?
Dari Banda Aceh, bisa pergi menuju Pelabuhan Ulee Lheue, dan menaiki kapal ferry (tarif ekonomi Rp 18.850 dan untuk motor Rp 23.700) ataupun kapal cepat (ekspress) (tarif ekonomi Rp 55.000, eksekutif Rp 65.000). Jadwal kapal menuju Pelabuhan Balohan (Weh) dan menuju Pelabuhan Ulee Lheue (Banda Aceh), sebagai berikut :

BBM teman tentang jadwal kapal
Selama berada disini, saya menginap dirumah Ka' Lisa, seorang teman yang baru saja saya kenal, yang menawari saya untuk menginap dirumahnya, LUCKY ME. Rumah ka' Lisa berada di sekitar pantai pasir putih, jauh dari kota Sabang, melewati jalan berliku, menanjak, hutan dimana-mana, dan saya bersyukur karena dengan begini saya jadi puas menikmati alamnya :) Lagi-lagi saya bisa bersosialisasi dengan warga lokal, kasih centang deh, karena tujuan saya terwujud :) Berikut adalah tempat-tempat keren di Pulau Weh yang sempat saya kunjungi.....

1. Gunung Berapi (Volcano)
Ga nyangka ternyata di Pulau Weh terdapat gunung berapi, letaknya di daerah Jaboi, jalurnya sih jarang dilewati orang, bahkan saya bilang sepi. Saya sempat bingung sewaktu tiba di lokasi, bingung dimana gunungnya, karena yang nampak adalah pemandangan seperti foto dibawah ini. Kemudian saya tersadar sendiri, mungkin inilah gunungnya, karena tidak ada lagi dataran yang lebih tinggi daripada ini. Yang membuat saya tidak betah berlama-lama disini adalah bau belerangnya yang menyengat.

Mungkin inilah gunungnya...
Belerang

2. Danau Aneuk Laot
Saya hanya melihat keindahan danau air tawar ini dari kejauhan, tidak sempat untuk mengunjunginya lebih dekat, danau ini berbatasan dengan laut. Nama Aneuk Laot diberikan karena pulau ini dikelilingi laut, tetapi kabarnya danau ini dapat mencukupi kebutuhan air bersih untuk masyarakat.

Danau Aneuk Laot
Keren :)

3. Pantai Kasih - Sabang Fair
Pantai ini terletak dekat dengan Sabang Fair, katanya sih tempat faforit untuk melihat sunset. Pantai ini juga berdekatan dengan Pantai Tapak Gajah dan Pantai Paradiso, saya sempat melewati pantai-pantai tersebut, terlihat masih natural. Kelar sunsetan, mampir ke Sabang Fair buat jajan kayanya okeh, karena di sekitar sini terdapat beberapa penjual jajanan.

Menunggu sunset
Gajadi sunsetan, mendung :(

4. Pantai Pasir Putih
Awalnya niat saya kesini adalah untuk snorkling, tetapi batal karena gerimis dan ombaknya lagi ga bagus. Alhasil saya cuma mampir bentar disini, dan melanjutkan perjalanan ke tujuan selanjutnya. Pantai Pasir Putih terlihat masih alami, sayangnya banyak kotoran yang alami  juga seperti ranting kayu, dedaunan dan tumbuhan laut.

Pantai pasir putih

5. Tugu Km 0
Sepertinya ini adalah tempat wajib yang harus dikunjungi apabila setiap orang bisa menginjakkan kaki di Pulau Weh. Terletak di Desa Iboih Ujong Ba'u, dekat dengan pantai Iboih, tetapi cukup jauh dengan Kota Sabang (mungkin sekitar 45 menit). Tugu ini adalah bangunan yang memiliki tinggi sekitar 22,5 meter dengan bentuk lingkaran. Must visit, sayangnya disini terdapat banyak coretan dari tangan-tangan usil -,- Oiya, dari sini, saya bisa melihat Laut Andaman dari kejauhan.
Saya sempat bertemu dengan pengendara motor gede, yang jauh-jauh ke Pulau Weh hanya untuk mengunjungi tugu yang merupakan penanda geografis wilayah paling barat di Indonesia ini, sore hari mereka sampai Pulau Weh, paginya langsung balik lagi ke Banda Aceh, ckckck gak capek apa?

Saya & Tugu KM 0
Berdiri tepat di titik KM 0 Indonesia *proud*

6. Pantai Iboih - Pulau Rubiah
Kedua tempat ini adalah tujuan faforit bagi siapapun yang ingin berlibur ke Pulau Weh, terutama bagi yang hobi snorkling, dan juga diving. Menurut saya pribadi, snorkling di Iboih memang keren, karena memiliki visibility yang bagus.


Please, note it!
Bening bgt khan :p
Santai di Iboih *heaven*

7. Pantai Gapang
Pantai ini letaknya tak jauh dari Pantai Iboih, dan ini merupakan pantai favorit saya di Sabang. Kenapa? karena pantai ini sepi dan memiliki garis pantai yang panjang, dengan begitu saya bisa seharian disini sambil bermain ayunan yang terdapat pada beberapa pohon besar disekitar pantai *heaven*


Pantai Gapang
Santai...lagi di pantai :p
Me & the beach :)

8. Air Terjun Pria Laot
Ternyata ada juga air terjun di Pulau Weh ini, yap! namanya Air Terjun Pria Laut. Untuk menuju kesini, harusnya kendaraan berhenti di depan menara semacam PDAM-nya Sabang. Tetapi, saya dan teman-teman saya malah nekat untuk menaiki motor melintasi jalur sempit dan jembatan kecil, dan kemudian berhenti karena jalurnya tidak bisa dilewati akibat pohon tumbang, hehehe... Setelah beberapa meter meninggalkan motor, kami melewati (bahkan naik turun) batuan terjal, serta menyebrangi sungai, SERU!!!
Air terjun ini terletak di dalam hutan, suasananya hening sekali. Kami sempat putus asa, karena tidak kunjung menemukan air terjunnya, dan juga jalurnya membingungkan, tetapi kami tetap berjalan kedepan. Hingga akhirnya, kami menemukan air terjun kecil yang cukup memukau :)

Penampakan air terjunnya...

9. Pantai Anoi Itam
Pantai Anoi Itam memiliki pasir berwarna hitam, sesuai dengan namanya. Pemandangan disini juga tidak kalah bagusnya dengan pantai-pantai lain di Sabang. Katanya sih, pasir di pantai ini lebih berat daripada pasir hitam pada umumnya, ini dikarenakan pasirnya mengandung bahan tambang jenis nikel yang tinggi dalam komposisi mineral penyusunnya. Karena pada saat itu hujan turun, maka saya tidak sempat mengabadikan dalam kamera saya, tapi saya mengabadikannya melalui ingatan saya :)

10. Pantai Sumur Tiga
Letak pantai ini lumayan dekat dengan Pantai Anoi Itam, searah jalannya. Pantai ini memiliki pasir yang putih, ombak yang cukup besar dan garis pantai yang panjang. Banyak yang bilang, disinilah kita bisa melihat sunrise yang keren, karena letak Pantai Sumur Tiga (dan Pantai Anoi Itam) yang berada di timur. Sayangnya, saya belum sempat melihat sunrise keren itu T__T Maybe, next time yaaa... Aamiin!

11. Tugu Sabang - Merauke
Tugu ini terletak didepan kantor walikota Sabang, dinamakan Tugu Sabang Merauke karena memiliki kesamaan bentuk dengan tugu yang ada di Sota, Papua. Saya kemari pada malam hari, dan tidak sempat mengabadikan dengan kamera :(

12. Hotspring
Merupakan pemandian air panas yang eksotis, karena dari sini saya bisa melihat pemandangan laut.
Sambil berendam, sambil menikmati sepoi angin laut

Yakkk....acara keliling pulau selama 3 hari 2 malam dengan menaiki motor ini sangat seru! Walaupun cuaca pada saat itu tidak mendukung, karena mendung sepanjang hari dan kadang ditemani gerimis, serta saya belum mengunjungi semua tempat keren di Weh, saya tetap bersyukur dan senang. Bersyukur dan senang karena bisa tinggal dan ditemani jalan-jalan sama ka' Lisa, dibantu dan ditraktir sama bang Hijrah (owner PIYOH), bertemu dengan banyak orang baik dan banyak mendapat informasi serta pengalaman baru. 
Semua tempat yang telah saya kunjungi di pulau ini masih teringat jelas di memori saya, bahkan warna-warna cantik alamnya. Hanya mata saya yang menjadi saksi keindahan pulau ini, karena tidak semua keindahan bisa ditangkap jelas oleh kamera. Harapan saya masih sama dengan postingan sebelumnya, semoga saya bisa menginjakkan kaki lagi di pulau ini, Aamiin.....

Ngemperrr XD
See you again, Weh!

Senin, 06 Mei 2013

Visit Genting Highland

Berada di dataran tinggi, diselimuti udara yang sejuk, ditemani kabut, jauh dari hiruk pikuk perkotaan, jauh dari tekanan pekerjaan atau sekolah, ah...pokoknya jauh dari STRESS!!! Disini tersedia berbagai macam pilihan untuk bersenang-senang, melepas penat, menjauh dari sesuatu yang tak mengenakkan, atau bahkan hanya untuk berjalan-jalan saja. Yap! Tempat yang saya maksud ini adalah Genting Highland, yang terletak di Pahang, Malaysia. Tempat ini cukup terkenal di negara saya, Indonesia, mungkin karena bagian dari Resort World.

Genting Highland
Saya menyempatkan diri untuk mengunjungi Genting Highland pada saat saya pergi ke Malaysia di awal tahun ini, tepatnya setelah saya pulang dari Penang. Karena saya turis disini (yap! saya turis Indonesia), maka saya memutuskan untuk membeli tiket bis di Terminal Puduraya seharga RM 15,2 yang sudah termasuk bis ekspres Puduraya-Genting PP dan skyway PP. Entahlah, saya hanya ingin berjalan-jalan kali ini, tidak berminat menghabiskan waktu seharian untuk bermain-main. Kalau niatnya pengen main ato nyobain yang seru-seru, sebaiknya membeli tiket seharga RM 58 yang sudah termasuk bis ekspres PP, skyway PP dan tiket terusan outdoor thema park.
Pada saat itu, saya mendapat jadwal keberangkatan bis pada jam 10.00 dan kembali pada jam 16.00. Tepat jam 10.00, bis berwarna merah datang menjemput penumpangnya. Bisnya nyaman sekali, sehingga sepanjang perjalanan 70 persennya saya habiskan untuk tidur. Perjalanan dari Puduraya ke Genting memiliki durasi 1,5 hingga 2 jam perjalanan. Sepanjang perjalanan, saya disuguhi pemandangan bukit keren di kanan-kiri jalan (semacam membelah bukit), pepohonan rimbun, lembah, dan tentu saja kabut! Sesampainya di skyway station, saya dan penumpang lainnya langsung menuju ke atas untuk naik gondola. Setiap gondola bisa diisi sampai 8 penumpang, dengan durasi perjalanan 15 sampai 20 menit. Informasi yang saya dapat, gondola ini memiliki jalur terpanjang di Asia Tenggara, dan tercepat di dunia.

Skyway and fog
Tepat pada jam 12.00, saya resmi menginjak Genting Highland, udaranya dingin dan berkabut pada saat itu. Genting memiliki banyak tempat menarik, seperti casino, hotel, shopping mall, dan area bermain di indoor & outdoor theme park. Disini terdapat banyak wahana yang bervariasi, dan beberapa cukup menantang. Di dalam indoor theme park juga banyak yang menarik untuk dibuat narsis-narsisan :p Cukup menyenangkan berada disini, bye STRESS for a while!

Suasana di indoor theme park
Narcism :p
Mini Liberty
Flying coaster @ outdoor theme park
Kalo kalian ada waktu untuk berkunjung ke Kuala Lumpur, sempetin deh kesini dan main seharian dengan wahana yang mirip di DUFAN, gak bakalan nyesel kok :)

Kamis, 02 Mei 2013

L'Arc~en~Ciel Concert in Jakarta

Setahun yang lalu, tepatnya 2 Mei 2012, merupakan salah satu hari yang tak terlupakan bagi saya. Tepat setahun yang lalu, band favorit saya dari Jepang, L'Arc~en~Ciel mengadakan konser untuk pertama kalinya di Jakarta. Saya yang sejak awal tahun 2012 mendengar berita ini, berencana untuk nonton konsernya, yap harus nonton! Karena ini merupakan merupakan cita-cita saya, menonton langsung konser Laruku...
Finally...My Dream Come True!


Why I like L'Arc~en~Ciel?
Singkat saja ya, awal mula saya menyukai Laruku akibat ketertarikan saya tentang Jepang (tepatnya sejak SMP), terutama kebudayaan, anime dan entertainmentnya. Kemudian saya memiliki seorang teman baru yang hobinya ngasih saya pv dan mp3 L'Arc~en~Ciel, dan dari sinilah saya mengikuti Laruku (bahkan saya punya album indie-nya). Musik mereka bervariasi, cenderung rock, nge-beat bahkan ada juga yang mellow, semuanya bisa diterima oleh telinga saya. Saya memiliki banyak alasan untuk menyukai band ini, mungkin next time saya akan menjabarkannya satu persatu :)





What happened on May 2nd, 2012?
Saya tiba di Jakarta menjelang dhuhur, dijemput oleh teman-teman dari sesama komunitas backpacker. Saya sempat diajak makan, jalan-jalan dan merasakan kemacetan Jakarta, fiuh. Dan sorenya, sampai juga saya di kawasan Senayan, memang sih konsernya masih beberapa jam lagi, tapi saya harus menukar voucher dengan tiket terlebih dahulu dan menemui beberapa teman yang telah menunggu saya. Jam 20.00 masih lama, sayapun menghabiskan waktu dengan mengobrol, mengelilingi stand, makan dan bengong! Pada jam 18.30, banyak orang yang telah membuat barisan untuk memasuki pintu utama, dan saya termasuk di dalamnya. Saya mendapat tempat di depan, pasti nanti bisa melihat mereka dari dekat *excited*. Saya berdiri lama sekali, hampir 2 jam, sempat gerimis, sambil menunggu, tapi kali ini dengan antusias.

8.10 PM
Hyde muncul dalam video pembukaan konser di layar super besar, yap! konser ini memiliki multimedia yang sangat keren, big screen digital yang super jernih juga sangat keren hingga akhir konser. Dan akhirnya... Hyde, Tetsu, Ken dan Yuki muncul di atas panggung, saya makin excited, inilah yang saya tunggu-tunggu sejak lama.
Ibara No Namida adalah lagu pembuka di konser ini, performance Hyde terlihat enerjik, ah...bakal tak terlupakan ini. Setiap mereka membawakan lagu-lagunya, visualisasi pada back drop selalu berubah tema, tata lampunya juga keren, KAKKOI...

Daftar lagu yang dibawakan oleh L'Arc~en~Ciel :
1. Ibara No Namida
2. Chase
3. Goodluck My Way
4. Honey
5. Drink It Down
6. Revelation
7. Hitomi No Jyunin
8. XXX
9. Fate
10. Forbidden Lover
11. My Heart Draws A Dream
12. Seventh Heaven
13. Drivers High
14. Stay Away
15. Ready Steady Go
16. Anata
17. Fourth Avenue Cafe
18. Link
19. Niji
Hyde
Tetsu
Ken
Yukihiro
Secara keseluruhan, konser ini sangat keren! 2 jempol untuk Marygops sebagai promotornya, panggungnya juga keren, yah walaupun tidak semegah panggung saat Laruku konser di Jepang :) Para personil juga berusaha sebaik mungkin untuk menampilkan performance keren mereka dan berinteraksi dengan penonton menggunakan Bahasa Indonesia. 
Jika suatu saat Laruku datang lagi ke Indonesia, saya pasti akan nonton konsernya lagi, pertanyaannya kapan mereka kesini lagi???