Selasa, 26 Februari 2013

NUSA BARUNG, salah satu pulau terluar Indonesia

Mungkin sebagian dari kalian pernah mendengar tentang Nusa Barung, yang merupakan salah satu pulau terluar di Indonesia, yang terletak di kabupaten Jember. Saya dan teman2 BPI Surabaya, dan juga banyak teman2 yang baru saya kenal melakukan perjalanan ke Pulau Nusa Barung pada tanggal 17-18 Desember 2011, jadi postingan saya kali ini late post banget, uda setaun lebih baru diposting sekarang :D Maaf banget ya, tapi intinya saya mau share pengalaman seru saya ke pulau terluar Indonesia :) Tetapi, untuk kali ini saya tidak mencantumkan tarif transportasi, serta biaya-biaya lainnya, dikarenakan saya melakukan perjalanan di tahun 2011.
Meeting point kali ini di terminal bungurasih pada jam 7 pagi, setelah kami berkumpul semua, kemudian kami menuju tempat bis tujuan Ambulu, tapi sayangnya pada hari itu bis tujuan Ambulu tidak beroperasi :( Jadinya, kami semua baru naik bis jurusan Jember pada jam 10 pagi (molor banget dari rencana). Kami baru sampai di daerah Tawangalun, Jember sekitar jam 3 sore, dan kami terlebih dahulu mencari makan dan sholat dhuhur sekaligus ashar di masjid sekitar.

Suasana makan dikala itu...
Sekitar jam setengah 5 sore, kami dijemput oleh mobil elf yang sudah dipesan dan dinego jauh-jauh hari oleh Deny, kami semua diantarkan ke Tanjung Papuma dan berkemah disana. Sayangnya, kami sampai di Papuma saat langit telah gelap, jadinya kami langsung mendirikan tenda dan menggelar lapak untuk memasak :D Oiya, sebaiknya tidak usah repot-repot bawa tenda, karena disini terdapat persewaan tenda dan harganya murah kok.

Welcome!
Sesi masak bersama Chef Rahmat :)
Papuma merupakan singkatan dari Pasir Putih Malikan :) Tanjung Papuma berada di Desa Lojejer, Kecamatan Wuluhan, Jember. Papuma tergolong pantai yang berada di selatan Jawa, namun ombaknya lumayan tenang, pasirnya putih dan kebersihannya cukup terjaga. Sayangnya, belum ada transportasi umum yang melewati Papuma secara langsung, tetapi akses jalannya sudah cukup bagus.
Kami melewati malam itu dengan saling berkenalan satu sama lain, memasak, merencanakan hal-hal seru untuk keesokan harinya, bernyanyi sambil bermain gitar dan juga bermain kartu. Malam yang menyenangkan sekali, karena awalnya kami belum saling kenal kemudian menjadi saling kenal :)
Keesokan paginya, kami semua bersama-sama menikmati Papuma dengan langit yang sedikit mendung, tapi tidak mengurangi keindahan Papuma kok. Ini beberapa foto narsis saya dengan Papuma...






Ohayou Papuma...
Me & Papuma
Beberapa dari kami :)
Setelah kami puas menikmati pagi yang indah dan foto-foto sesuka hati, kami kembali ke camp untuk membongkar tenda, sarapan pagi dan ada beberapa dari kami yang mandi. Saya sih memilih untuk tidak mandi, karena nanti akan ada menu berenang di Nusa Barung, sekalian mandi pikir saya :D
Sekitar jam 7 pagi, lagi-lagi kami dijemput oleh mobil elf yang kemarin, kali ini kami akan diantarkan ke daerah Puger. Menuju Puger adalah salah satu cara untuk menyeberang ke Nusa Barung. Sebenarnya, bisa juga menyeberang dari Papuma, tetapi teman kami terlanjur menyewa kapal nelayan yang berangkat dari Puger. Setelah melewati 1 jam perjalanan, akhirnya kami sampai juga di Puger, sayangnya kami harus menunggu 1 jam lagi karena ternyata kapalnya belum siap :(
Akhirnya, jam 9 pagi kami semua naik kapal dan memulai perjalanan mengarungi ganasnya laut selatan, ombaknya gak main-main loh! Ini serius! Sekitar 2 jam lebih kami berada di atas kapal, mayoritas dari kami cukup menderita (pusing) akibat diombang ambing oleh ombak.

Akhirnya... Nusa Barung terlihat juga...
Hai, para nelayan :)
Airnya biru :)
Keren khan!!!
Akhirnya mendarat di Nusa Barung :)
Nusa barung terletak di Kabupaten Jember, dan berada di Samudera Hindia. Pulau ini tidak berpenghuni, dan menurut saya pulau ini KEREN karena memiliki gugusan karang yang berukuran besar, airnya terlihat biru jernih, dan juga pemandangan bawah lautnya termasuk lumayan buat yang hobi snorkling. Pokoknya pulau ini worth it deh buat dikunjungi :)

Para ladies yang belom mandi :D
Saya rada autis nih (ngaku :p)
Kamipun berenang & berguling-guling disini :D
Sekitar jam 1 siang, kamipun diusir dari Nusa Barung, kami diusir oleh hujan deras, padahal kami belum puas berenang disini :( Sepanjang jalan diatas kapal, kami kehujanan dan pastinya kedinginan, perjalanan pulang ditempuh dengan durasi 1 setengah jam saja, lebih cepat kan!!! Sesampainya di Puger, kami langsung mandi dan bersiap-siap untuk pulang menuju Surabaya.

Trip kali ini merupakan salah satu trip favorit saya, alasannya :
  1. Saya mendapat banyak teman baru dalam trip ini, dari yang awalnya gak kenal, akhirnya jadi saling kenal dan saya akrab dengan beberapa teman baru :) Dan juga, teman jalan untuk trip ini termasuk asik dan rame, menyenangkan!
  2. Camping! Saya selalu suka berkemah, apalagi berkemah di pinggir pantai, sensasinya itu lho :D Menghabiskan waktu untuk ngobrol semalaman, saling mengenal dengan teman 1 tenda dan juga saling care, serasa punya saudara baru :)
  3. Harmoni Alam, mirip seperti acara TV Harmoni Alam, kali ini beneran terealisasi dalam trip ini. Teman saya, Rahmat (bukan nama sebenarnya :D), kebetulan seorang tukang masak atau lebih dikenal dengan chef. Dia menyempatkan untuk membawa peralatan masak praktis seperti nesting, dan sebagainya, dan memasak di pinggir pantai untuk kami, yap! untuk kami :D Salah satu tipe lelaki idaman deh pokoknya, hahaha
  4. Trip dengan 2 destinasi keren! Mengunjungi Tanjung Papuma dan Nusa Barung sebenarnya adalah alasan utama saya mengikuti trip ini, selain saya belum pernah, alasan kuat lainnya adalah saya seorang Beach Addict.
  5. Salah satu pulau terluar Indonesia! Yap... karena inilah saya teramat sangat ingin kesini, saya selalu bercita-cita untuk menginjakkan kaki di pulau-pulau baru Indonesia, apalagi pulau terluar. Bangga banget rasanya :)
Selesai sudah postingan tentang Nusa Barung, maafkan saya atas keterlambatan posting ini, sekitar 14 bulan (setahun lebih malah) pengalaman seru di Tanjung Papuma dan Nusa Barung harus mendekam di ingatan saya :( Dan setelah saya menulis ini, rasanya saya sedikit lega dan senang karena harus mengingat kembali kenangan-kenangan seru di tanggal 17-18 Desember 2011, serta kembali melihat koleksi foto dan video tentang perjalanan ini :)

Kamis, 21 Februari 2013

Bena Village (Flores Trip Part 3)


Masih di hari kamis, 15 November 2012, setelah paginya saya dan teman-teman mengunjungi Taman Nasional Kelimutu, kemudian siangnya kami mampir sebentar ke Pantai Batu Hijau yang masih berada di Ende, tepatnya didaerah Penggajawa. Di pantai ini juga terdapat pendulangan batu hijau yang dilakukan oleh masyarakat sekitar pantai, batu hijau disini bermacam-macam ukurannya, mulai dari yang kecil banget sampe yang besar. Ini beberapa penampakannya...
Pasirnya hitam
Penampakan pantainya...
Batu warna hijau dikanan, non hijau dikiri :D
Cukup asiklah ketemu pantai siang-siang gini, walaupun pantainya kalah jauh sama pantai-pantai di Komodo :p Selanjutnya, kami meneruskan perjalanan menuju Desa Bena yang terletak di Bajawa. Jujur ya, saya baru mendengar nama Desa Bena saat mendekati trip Flores ini, tepatnya di awal Bulan November. Saya bahkan belum sempat browsing dan nanya-nanya tentang Bena ini, bener-bener deh fokus saya kali ini, cuma pengen ke T.N Komodo sama Kelimutu, lainnya saya anggap distraction. Tapi, ternyata interesting distraction lho :D 
Sekitar sorean, kami sampai di Desa Bena, yang ternyata merupakan salah satu desa megalitikum di pulau ini. Setelah Om Obet selesai mengisi buku tamu dan membayar sumbangan sebesar Rp 50.000, saya langsung berjalan mengelilingi desa, sangat menarik ternyata.....


Amazingly Bena
Atapnya ditutupi jerami
Anak-anak Desa Bena
Me & Bena
Era Megalitikum :D

Sekilas tentang Bena :
Kampung Bena adalah salah satu perkampungan megalitikum yang terletak di Kabupaten NgadaNusa Tenggara Timur. Tepatnya diDesa TiwuriwuKecamatan Aimere, sekitar 19 km selatan Bajawa. Kampung yang terletak di puncak bukit dengan view gunung Inerie. Keberadaannya di bawah gunung merupakan ciri khas masyarakat lama pemuja gunung sebagai tempat para dewa. Menurut penduduk kampung ini, mereka meyakini keberadaan Yeta, dewa yang bersinggasana di gunung ini yang melindungi kampung mereka.
Kampung ini saat ini terdiri kurang lebih 40 buah rumah yang saling mengelilingi. Badan kampung tumbuh memanjang, dari utara ke selatan. Pintu masuk kampung hanya dari utara. Sementara ujung lainnya di bagian selatan sudah merupakan puncak sekaligus tepi tebing terjal.
Kampung ini sudah masuk dalam daerah tujuan wisata Kabupaten Ngada. Ternyata kampung ini menjadi langganan tetap wisatawan dariJerman dan Italia.
Ditengah-tengah kampung atau lapangan terdapat beberapa bangunan yang mereka menyebutnya bhaga dan ngadhu. Bangunan bhaga bentuknya mirip pondok kecil (tanpa penghuni). Sementara ngadhu berupa bangunan bertiang tunggal dan beratap serat ijuk hingga bentuknya mirip pondok peneduh. Tiang ngadhu biasa dari jenis kayu khusus dan keras karena sekaligus berfungsi sebagai tiang gantungan hewan kurban ketika pesta adat
Kampung ini sama sekali belum tersentuh kemajuan teknologi. Arsitektur bangunannya masih sangat sederhana yang hanya memiliki satu pintu gerbang untuk masuk dan keluar, Menurut catatan Pemerintah Kabupaten Ngada, Kampung Bena diperkirakan telah ada sejak 1.200 tahun yang lalu. Hingga kini pola kehidupan serta budaya masyarakatnya tidak banyak berubah. Dimana masyarakatnya masih memegang teguh adat istiadat yang diwariskan oleh nenek moyang mereka. Bangunan arsitektur Bena tidak hanya merupakan hunian semata, namun memiliki fungsi dan makna mendalam yang mengandung kearifan lokal dan masih relevan diterapkan masyarakat pada masa kini dalam pengelolaan lingkungan binaan yang ramah lingkungan. 
Nilai yang dapat diketahui bahwa masyarakat Bena tidak mengeksploitasi lingkungannya ialah lahan pemukiman yang dibiarkan sesuai kontur asli tanah berbukit. Bentuk kampung Bena menyerupai perahu karena menurut kepercayaan megalitik perahu dianggap punya kaitan dengan wahana bagi arwah yang menuju ke tempat tinggalnya. Namun nilai yang tercermin dari perahu ini adalah sifat kerjasama, gotong royong dan mengisyaratkan kerja keras yang dicontohkan dari leluhur mereka dalam menaklukkan alam mengarungi lautan sampai tiba di Bena.
copas dari wikipedia

View Bena dari atas
Rumah di Bena
Tenunan yang dijual
Desa diatas bukit, jadi viewnya AJIB
Oke, karena langit sudah mau gelap, maka kamipun harus segera pergi meninggalkan desa ini, sementara kami pergi, banyak turis asing (sekitar belasan orang) mulai berdatangan kesini dengan membawa kasur lipat. Ternyata turis-turis ini akan menginap disini, mereka ingin merasakan suasana tenang dan sejuk di perkampungan megalitikum ini, lagi-lagi saya bangga sekali pernah kesini :)
Malamnya, kami menginap dirumah Om Karel yang terletak di Ruteng. Om Karel adalah sopir kami selama perjalanan menyusuri Flores, dia dengan baik hati menawari kami untuk menginap dirumahnya \(´`)/ Keluarga Om Karel sangat ramah dan menyenangkan, kami bersepuluh bisa meluruskan badan malam itu, ditemani dinginnya Ruteng. Alhamdulillah malam ini bisa menginap gratis...
Kami bersama keluarga Om Karel

Jumat, 16 November 2012
Hari ini saya bangun pagi-pagi sekali, setelah sholat subuh, saya berjalan-jalan mengelilingi perkampungan rumah Om Karel barengan Anggi, Ramdan dan Tyo. Sedangkan yang lain masih pada molor, asik sama mimpinya, skip aja deh! Oiya, sebelumnya kami mampir dulu untuk membeli camilan donat yang di shake dengan gula halus (karena kelaperan). Sambil jalan-jalan pagi sambil makan donat deh :D
Capek jalan-jalan, kami kembali kerumah Om Karel dan yang lainnya masih pada asik tidur Ò¨(° ̯˚)Ò¨ Saya dan Anggi berinisiatif untuk memasak mi rebus sebagai sarapan. Dan pagi itu, ditemani nasi dan mi telur rebus, kami dan keluarga Om Karel makan dengan lahapnya \(´`)/
Sekitar jam 10 siang, kami meninggalkan rumah Om Karel untuk melanjutkan perjalanan kembali ke Labuan Bajo. Ditengah perjalanan, kami berhenti di sebuah desa tertua di kota Ruteng.


Rumah Kerucut :D
Katanya, rumah ini ditempati 40 KK lho

Sorenya, kami sampai juga di Labuan Bajo (lagi) dan kami (lagi-lagi) menginap di Hotel Wisata, saya sekamar dengan Anggi dan Diyan. Sekitar jam setengah 5 sore, saya barengan dengan Anggi dan Dimas berjalan-jalan disekitar pelabuhan sambil jajan cilok (pentol) dan memburu sunset yang lumayan keren :) Btw, cilok disini mahal, masa seribu cuman dapet 2, tapi setelah ditawar Dimas, akhirnya seribu dapet 3 deh \(´`)/ Capek jalan-jalan, kami mampir ke toko oleh-oleh untuk beli kaos.


Sunset
Suasana malam di Labuan Bajo
Okee, malam ini adalah malam terakhir di Labuan Bajo, makanya sayapun gak capek-capek untuk jalan-jalan disini (sampe jam 11 malam). Sampe bapak pemilik toko dan pemilik warung nasi padang pun saya ajak ngobrol, maklumlah mereka juga orang jawa, karena sama-sama ketemu orang Jawa, mereka jadi betah ngobrol deh, ngobrolnya dari era 80an, infrastruktur sampai pemerintahan :D Saya memutuskan untuk tidur jam 12 malam, karena besok saya akan melakukan perjalanan panjang menuju Denpasar via darat-laut. Tetep semangat ya ikutin cerita saya sampe balik ke Surabaya lagi...

Pengeluaran :
Lunch (Bakso + Nu Green Tea)                                  Rp     17.000
Jajan di Ruteng                                                       Rp      6.000
Dinner (Gado-gado)                                                 Rp     10.000
Hotel Wisata                                                           Rp     50.000
Jajan Cilok                                                             Rp       3.000
Urunan tiket masuk 14-16 Nov                                   Rp     21.500
Kaos 2 pc                                                                Rp   120.000
Bis (Labuan Bajo - Denpasar)                                    Rp    340.000
Total Pengeluaran                                                 Rp    567.500


Rabu, 20 Februari 2013

Short trip to Gondo Mayit

Kali ini teman-teman Backpacker Regional Surabaya merencanakan untuk pergi ke pantai-pantai yang berada di Blitar, dan karena saya belum pernah mengunjungi pantai-pantai di Blitar, pastinya saya harus ikutan donk :)
Hari sabtu sore, semuanya berkumpul dirumah saya untuk menunggu menunggu jemputan (kali ini kami memutuskan untuk naik mobil). Sekitar jam 7 malam, kami berangkat dari Surabaya menuju Blitar dengan 2 armada mobil Avanza dan Xenia, dan sekitar jam 11 malam tibalah kami semua dirumah Deny. Deny adalah salah satu kawan backpacker saya yang aslinya dari Blitar. Deny dengan baik hati mempersilahkan kami untuk menginap dirumahnya, bahkan orang tuanya menjamu saya dan teman-teman dengan baik dan mewah :)
Keesokan harinya, saya dan teman-teman berpamitan kepada orang tua Deny, setelah sebelumnya kami sarapan tahu telur, dan banyak macam gorengan. Kami akan memulai perjalanan menuju Pantai Gondomayit, ini lah yang membuat saya mau ikut trip singkat ini, karena saya belum pernah mengunjungi pantai ini.
Sepanjang perjalanan, saya disuguhi pemandangan keren, mulai dari hamparan sawah, hutan, sampai dengan bukit berkelok-kelok :) Sekitar hampir 90 menit perjalanan menuju daerah Tambak rejo, yang merupakan pintu masuk menuju Pantai Gondo mayit. Disini kita bisa mengunjungi 2 pantai sekaligus, yaitu Pantai Tambak rejo dan Gondo mayit. Tetapi kalo ingin ke Gondo mayit, kita harus terlebih dahulu menyeberang laut (disarankan kesini pagi, karena laut sedang surut), dan juga trekking menaiki bukit. Intinya butuh pengorbanan dulu kalo mau ketempat keren!!! Langsung aja ya foto-fotonya, semua foto ini diambil dari dari kamera Zulmy, karena kebetulan waktu trip ini saya tidak membawa kamera :D


Pantai Tambak rejo
Trekking menuju Gondo mayit
The Team
View dari atas


Setelah puas berpanas-panasan dan berenang di Pantai Gondomayit, kamipun kembali ke parkiran mobil, beberapa diantara kami ada yang langsung tiduran, ada juga yang mandi. Saya sih, karena kelaparan, saya makan bakso :D
Selanjutnya kamipun kembali ke kota untuk menikmati suasana Kota Blitar, sejuk juga disini. Sorenya kami kulineran pecel blitar yang menurut saya bumbunya pedas dan juga es pleret :)

Kulineran, Es Pleret

Selesai sudah short trip kami di Kota Blitar ini, kota yang menyenangkan ditambah teman-teman yang seru dan gila, haha... Kalian ngangenin lho, sering-sering ya ngajakin aku jalan :)


Selasa, 12 Februari 2013

Journey to KELIMUTU (Flores Trip Part 2)

Setelah kemarin lumayan seneng (tapi belum puas) berkeliling Taman Nasional Komodo naik kapal atau sailing trip, sekarang saya akan share cerita mengenai perjalanan saya via darat menyusuri Pulau Flores, tapi sayangnya ga sampai ujung pulau sih :D Tapi gapapa lah, itu artinya someday saya mesti balik lagi ke pulau ini :)
Aamiin...
Kali ini saya mesti menanggalkan sementara status backpacker menjadi flashpacker, tapi gapapa ding, kan flashpacker merupakan anak cabang dari traveller :p (sok tau ya :p ngasal aja kok nulisnya). Oiya, saya tanggalkan status backpacker, karena dalam perjalanan menuju Kelimutu ini saya tidak menggunakan public transport dan numpang-numpang (seperti yang biasanya saya lakukan). Saya akui kali ini saya cemen!!! Yak, next time kalo ke Flores lagi ga boleh cemen ya, Qee (membulatkan tekad). Walaupun begitu, ada juga sisi positifnya, tapi tetep minim pengalamannya :) Oke, cukup sudah basa basinya :p inilah cerita saya menyusuri Pulau Flores yang saya bagi dalam dua bagian, part 2 tentang Danau Kelimutu, dan part 3 tentang Desa Bena dan Ruteng.....


Rabu, 14 November 2012
Sekitar jam 6.30 pagi, mobil elf yang kami sewa seharga 4 Juta untuk 3 hari telah sampai di halaman penginapan kami, Hotel Wisata. Kami semua menaikkan tas keril masing-masing ke atap mobil untuk diikat dan ditutupi terpal. Teman-teman lainnya berlalu lalang untuk membeli camilan atau roti yang bisa mengganjal perut selama didalam mobil. Sedangkan saya cuma sempat minum susu ultra moka, dan berharap untuk beberapa jam ke depan saya tidak lapar. Setelah semua tas dan para pemiliknya sudah naik dalam mobil, sekitar jam 7 lebih mobil elf pun berangkat menuju destinasi utama, Danau Kelimutu :)
Ditengah-tengah perjalanan, kami sempat berhenti di Desa Cancar, masih di Kabupaten Manggarai. Desa Cancar terkenal memiliki sawah yang berbentuk seperti jaring laba-laba, keindahan ini tentunya bisa dinikmati dari atas bukit. Disaat saya sedang asik mengabadikan view Desa Cancar, saya jadi ingat, kalo tadinya saya kebelet pipis. Saya mencari toilet umum disekitar situ, tapi sayangnya saya tidak dapat menemukan toilet yang layak pakai disitu :( Dengan amat terpaksa, saya akhirnya pipis ditoilet primitif yang baunya gak karu-karuan. Yah, patut dijadikan pengalaman, dan sangat terlihat sekali disini minimnya fasilitas yang ada, bahkan (kata penduduk sekitar) air bersih disini sulit didapat :(
sawah yang berbentuk jaring laba-laba
Me & Cancar Village
Sekilas mengenai sawah di Desa Cancar :
Sawah ini dibentuk menurut sistem pembagian sawah yang dilakukan oleh ketua adat setempat, sawah yang terbagi ini disebut Lingko. Lingko adalah tanah adat yang dimiliki dan dikelola bersama oleh penduduk. Lingko tidak dimiliki perorangan, tetapi dimiliki oleh setiap suku yang ada di wilayah tersebut. Setiap suku memiliki tetua yang bertugas untuk membagi besarnya lingko. Sistem pembagian lingko disebut lodok. Pembagian tanah dilakukan dengan menentukan titik pusat hamparan tanah adat. Kemudian, pada titik pusat ditanam kayu khusus. Besar kecilnya tanah ditentukan dari kedudukan seseorang dalam kampung dan jumlah keluarga. Semakin tinggi kedudukannya, semakin besar pula tanah yang di dapat. Tanpa disadari, pembagian ini ternyata membentuk sawah seperti jaring laba-laba.

barengan anak-anak dari desa cancar
Selanjutnya, kami berhenti di Danau Ranamese yang terletak di tepi jalan raya utama Kota Ruteng, danau ini secara administratif berada di Kabupaten Manggarai Timur. Tempatnya sepi cuy, ga dipungut tiket masuk pula. Danau ini pas banget dijadiin tempat untuk mencari ketenangan. Udara disini sangat sejuk, bahkan sedikit berkabut, padahal kami kesini saat jam 1 siang.
Ranamese Lake
Danau Ranamese termasuk dalam kategori danau vulkanik, yang memiliki kedalaman 43 meter, luas 5 hektar, dan terletak pada ketinggian 1200 Mdpl. Kami hanya sebentar disini, selanjutnya kami meneruskan perjalanan hingga ke Ende, ditemani lagu-lagu ngebeat berbahasa khas indonesia timur :)


Kamis, 15 November 2012
Kami baru sampai penginapan sekitar jam 2 pagi, dan kami langsung tidur dikasur, lumayan lah bisa ngelurusin badan selama 2 jam. Dan tepat jam 4 pagi, kami berangkat menuju Taman Nasional Kelimutu \(´`)/ Dari penginapan kami (letaknya di Desa Moni) menuju ke T.N Kelimutu tidak terlalu jauh jika ditempuh dengan mobil. Sekitar setengah jam melewati jalanan yang meliuk-liuk dan juga menanjak, akhirnya kami sampai juga di T.N Kelimutu :) Rasanya bangga banget bisa mampir ke danau ini, keren banget!! Dan memang danaunya ada 3 warna loh, persis kaya di foto-foto yang pernah saya lihat (norak!!).


Kelimutu Gate
Sunrise yang keren di Kelimutu :)
Full Team, minus Mas Tyo
Sunrise @ Kelimutu lake
Me & Kelimutu
Sekilas tentang Danau Kelimutu :
Danau Kelimutu dikenal dengan nama Danau Tiga Warna karena memiliki tiga warna yang berbeda, yaitu merah, biru, dan putih. Walaupun begitu, warna-warna tersebut selalu berubah-ubah seiring dengan perjalanan waktu.
Kelimutu merupakan gabungan kata dari "keli" yang berarti gunung dan kata "mutu" yang berarti mendidih. Menurut kepercayaan penduduk setempat, warna-warna pada danau Kelimutu memiliki arti masing-masing dan memiliki kekuatan alam yang sangat dahsyat.
Danau atau Tiwu Kelimutu di bagi atas tiga bagian yang sesuai dengan warna - warna yang ada di dalam danau. Danau berwarna biru atau "Tiwu Nuwa Muri Koo Fai" merupakan tempat berkumpulnya jiwa-jiwa muda-mudi yang telah meninggal. Danau yang berwarna merah atau "Tiwu Ata Polo"merupakan tempat berkumpulnya jiwa-jiwa orang yang telah meninggal dan selama ia hidup selalu melakukan kejahatan/tenung. Sedangkan danau berwarna putih atau "Tiwu Ata Mbupu" merupakan tempat berkumpulnya jiwa-jiwa orang tua yang telah meninggal.
Luas ketiga danau itu sekitar 1.051.000 meter persegi dengan volume air 1.292 juta meter kubik. Batas antar danau adalah dinding batu sempit yang mudah longsor. Dinding ini sangat terjal dengan sudut kemiringan 70 derajat. Ketinggian dinding danau berkisar antara 50 sampai 150 meter.
(copas dari Wikipedia)
Natural Changes, Eternal Believes
Makin siang, makin banyak monyet :D
Bagian danau yang berwarna hitam
Akhirnya, foto disini juga...
US :)
Kelimutu, salah satu keindahan Indonesia
with Dimas
Sekitar jam 8 pagi kami meninggalkan Kelimutu untuk kembali ke penginapan. Memang saya hanya sebentar disini, tapi semuanya terbayar kok :) ditambah rasa bangga karena sudah sampai sini, danau yang namanya sudah mendunia. Terbukti saat saya kesini, lebih banyak wisatawan mancanegara daripada lokal, bangganya nambah deh...
Setelah check out dari penginapan, kami bersepuluh melanjutkan perjalanan ke Desa Bena yang merupakan salah satu desa megalitik di Flores, nyambung ke postingan berikutnya ya! Semoga lagi on the good mood, biar cepet kelar :)

Pengeluaran :
Rabu, 14 November 2012
Susu ultra (2 biji)                                                Rp     7.500
Brunch (nasgor + teh)                                          Rp   10.500
Dinner (nasi padang)                                           Rp    10.000
Penginapan di Moni / orang                                  Rp   42.000
Urunan mobil / orang                                          Rp   400.000

Kamis, 15 November 2012
Brunch (nasi sate ayam, share sama Ramdan)         Rp    14.000
Dinner (ditraktir ;D)                                            Rp      FREE

Total pengeluaran selama 2 hari                        Rp  484.000